4 november 2006….adalah tanggal teristimewa dalam sejarah hidupku dan dirinya. Tanggal yang mengantarkan kami pada indahnya dunia cinta. Saat itu janji suci dua insan terestui atas izinNya. Ada rasa syukur yang tak sanggup terungkapkan dalam kesederhanaan kata saja. Dalam perjalanannya, ada perjuangan dan pengorbanan yang tak mudah untuk menggapainya. Ada suatu proses dan penantian yang mengorbankan perasaan. Alhamdulillah akhirnya semua keresahan itu telah berakhir dalam akad suci…Terima kasih Ya Rabb….
Pernikahan kami berlangsung sederhana. Tak ada pesta yang meriah ataupun bulan madu yang dirancang istimewa dan romantis, seperti layaknya pernikahan bak putri raja yang sering diangan-angankan kebanyakan wanita atau keinginan orang tua diluar sana. Pintaku hanya satu, aku hanya ingin menikah dengannya secara sederhana…itu saja…:)
Saat memutuskan untuk menikah, status kami berdua masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir, tahu sendiri kan kondisi mahasiswa tingkat akhir ? Dana terkuras untuk biaya skripsi he..he..Pernikahan kami hanyalah bermodalkan kemantapan tekad untuk beribadah dan ketulusan cinta. Keberanian suami untuk segera menikah denganku, merupakan suatu karunia terindah dari Sang Penggenggam jiwa, keberanian yang tak dimiliki kebanyakan laki-laki di zaman sekarang.
Aku memang tidak mengalami indahnya bersanding dipelaminan nan megah ataupun merasakan romantisnya bulan madu di pulau impian atau kamar hotel berbintang lima. Jujur, aku memang tak mendambakan hal itu semua. Mungkin karena aku dilahirkan dari keluarga yang berlatar belakang sederhana. Dari keempat kakakku, semuanya hanya melangsungkan akad nikah saja tanpa ada resepsi pernikahan yang meriah. Semua itu melekat erat dalam benakku, dan aku pun menginginkannya, jika suatu saat nanti telah datang seorang laki-laki sholeh yang tepat dan berminat untuk menjadikan aku sebagai istrinya (bukan pacar loch ya..) aku akan menerimanya dan melangsungkan segera pernikahan secara sederhana.
Ya..walaupun semua terjadi dalam kesederhanaan, namun aku tetap bisa merasakan nuansa kemegahan cinta dalam pernikahan. Keindahan yang berbeda dan tak pernah kurasakan sebelumnya. Bukankah keromantisan dapat dirasakan tanpa harus membayar sejumlah harga mahal? Ketulusan dan kekuatan cinta mampu menciptakan nuansa romantis dalam hati kita masing-masing, dan itulah yang kami rasakan…
Masa – masa keromantisan kami telah dimulai ketika akad tengah dilaksanakan secara khidmat. Saat kedua lelaki kebanggaan saling melakukan akad suci, saat itulah hatiku mulai bergejolak dalam kesyahduan rasa. Subhanallah..tak terungkapkan dengan kata. Aku bahagia…
Mungkin tak ada yang tahu bagaimana perasaanku saat itu, saat jantungku bergejolak penuh bahagia, saat desiran darahku menggelorakan asmara, saat hatiku tak kuasa ingin segera mengungkapkan rasa cinta kepadanya. Ya Rabb akhirnya aku rasakan juga keindahan ini untuk pertama kalinya…Ya..saat pertama kalinya tangganku disentuh mesra. Saat jari jemari ini saling bertautan erat dalam genggaman tangan, hingga sudut demi sudutnya saling berlekatan penuh gelora. Saat mata kita saling beradu, bertatapan mesra dalam lekatnya hasrat cinta. Tanpa harus berkata-kata aku tahu dia sangat mencintaiku, dan aku pun mencintainya. Suatu wujud bahasa yang sempurna dalam rasa., bahasa cinta. Sungguh..hatiku tak mampu menahan gejolak indahnya suatu karunia teragung ini. Saat bersama mu adalah surga bagiku… saat itulah energi keromantisan mulai aku rasakan..
Masa-masa bulan madu kami jalani seperti biasa saja. Tak ada yang istimewa dalam hal tempat ataupun pelayanan. Kami hanya menghabiskan waktu di rumah orang tuaku. Hari-hari itu aku manfaatkan sebagai sarana perkenalan suami dengan keluarga besarku agar lebih akrab. Namun kami membangun masa-masa bulan madu tersebut dalam hati yang senantiasa berseri dan bersyukur. Setiap kebersamaan bagi kami adalah masa bulan madu yang sempurna, dimanapun dan kapanpun. Sehingga setiap detik dengan suamiku adalah suatu anugerah yang terindah.
Hari ketiga setelah menikah, kami memutuskan untuk hidup mandiri memisahkan diri dari orang tua. Di dalam kamar kostanku yang sempit, disitulah kami tinggal untuk sementara waktu. Selang satu bulan kemudian kami pindah ke rumah kontrakan yang lebih besar dan nyaman. Rumahku surgaku…akhirnya kami bisa bebas tanpa ada lagi kesungkanan karena keberadaan orang lain Ciiihuuuy..he..he..
Ada beberapa hal terindah dimasa- masa pengantin baru yang aku ingat dan tak akan terlupakan. Misalnya saat untuk pertama kalinya suamiku memanggil kata sayang, aku menangis tersedu-sedu terharu bahagia.. Gubraks…:) maklumlah tak pernah aku dipanggil sayang sebelumnya oleh lelaki tercinta..he..he..
Ataupun saat aku sulit sekali untuk disuruh menyikat gigi sebelum tidur, suamiku tak sungkan-sungkan setiap malam menggendong menuju kamar mandi agar aku mau melakukan kebiasaan baik itu..:)
Ada lagi kegiatan rutin tiap malam suami yang harus mengoleskan lotion anti nyamuk pada kaki dan tanganku, dan di saat tengah malam suamiku senantiasa bersiaga memukul nyamuk-nyamuk ganas itu, padahal aku sudah berulang kali mengingatkan agar tidak terjaga dimalam hari. Alasan suamiku kalo ditanya kenapa hal itu dilakukannya “ Bahkan nyamuk pun tak akan ku biarkan menyentuh kulitmu, selain aku..” Wew..luluh lantak lah hatiku..lumer berdarah – darah..:)
Pernah pula suatu saat, pengalaman indah bersamanya aku rasakan dalam kesyahduan suasana. Dalam temaram lampu ruang tamu, suami mengajakku berdansa dalam iringan lagu. Malu banget sih, terlihat norak..tapi aku suka..he..he..
Satu hal yang aku rasakan dari setiap sikapnya adalah kenyamanan rasa, dan hal itu yang terpenting dari suatu hubungan pernikahan. Saat itulah aku mulai merasakan kehadiran orang yang tepat untuk berbagi cerita baik dalam suka maupun duka. Dialah suamiku seseorang yang siap membimbingku disaat aku melakukan kesalahan, dialah suamiku seseorang yang akan membimbingku menuju jalan yang diRidhoiNya, dialah suamiku seseorang yang menyediakan waktu untukku dalam membantu menyelesaikan skripsi dengan segala tekanan – tekanan didalamnya, dialah suamiku seseorang yang siap memelukku disaat diriku merasa lemah dan terjatuh dalam kelemahan asa.
Dialah suamiku, tempatku menitipkan rindu didalam jiwa. Dialah suamiku seseorang yang mampu membuatku merasa tenang dari setiap amarah dan kekhawatiran yang aku punya, Dialah suamiku seseorang yang sebelum berangkat kerja tidak lupa untuk mengecup keningku mesra dan mengucapkan kata cinta. Dialah suamiku yang kerap menggenggam tanganku mesra menjelang tidur dan mengucapkan kata “Selamat malam cinta, maafin aku ya…Terima kasih atas segalanya…”..So Sweeeet…:)
Ya Rabb..terima kasih atas semua anugerah yang Engkau berikan. Kepada suamiku tersayang, terima kasih atas segala cinta yang kau berikan, aku semakin mencintaimu waktu demi waktu….