Mulai akhir bulan Oktober lalu, nama Gunung Merapi semakin populer baik di kalangan masyarakat Indonesia maupun dunia. Gunung Merapi meletus dan mengeluarkan awan panas. Aktivitasnya yang semakin meningkat dan menimbulkan banyak korban menjadi topik pembicaraan yang tak kunjung lepas. Berbagai media baik cetak maupun elektronik terus menginformasikan keadaan Merapi waktu demi waktu. Silih berganti berbagai stasiun televisi menayangkan gambar-gambar letusan awan panas, para pengungsi, dan korban – korban wedus gembel Merapi di Rumah Sakit Dr. Sardjito. Musibah Merapi ini begitu memilukan, terlebih lagi musibah yang menimpa juru kuncinya Mbah Maridjan yang ditemukan meninggal terkena awan panas menambah kesedihan masyarakat luas, meninggalkan duka mendalam disetiap hati warga Indonesia.
Berita ini juga rupanya menarik perhatian putri kecil kami Siti Nazma Zahira yang berumur 2,5 tahun. Keingintahuannya terhadap apa yang dilihat, didengar dan dirasa saat menyaksikan tayangan stasiun televisi begitu membuncah didada. Tak ada habisnya kami mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang mengemaskan itu. Nazma yang setiap harinya memang kerap memberondong kami dengan berbagai pertanyaan pun tak luput dari topik pertanyaan tentang meletusnya salah satu gunung teraktif diIndonesia ini.
“Itu gambar apa Mi?” Tanya Nazma sambil menunjuk layar televisi yang tengah menampilkan evakuasi jenazah Mbah Maridjan
“Gambar Mbah meninggal“, jawabku singkat sambil sibuk menyuapi makanan ke mulut kecilnya.
“Mbah apa Mi?”, Nazma kembali bertanya. Mungkin maksudnya sih “Mbah siapa Mi?”, maklum ia belum bisa membedakan kata tanya yang dipergunakan untuk menunjukkan orang atau benda.
“ Mbah Maridjan” dek, jawabku.
“Ooh…” bibir mungilnya membulat. Mungkin ada perasaan lega dari dirinya karena yang dimaksud ternyata bukan Mbah Putri atau Mbah Kakungnya sendiri, he..he.
“Kenapa Mbah meninggal Mi?” tanyanya kembali penuh rasa ingin tahu.
“Mbah meninggal terkena awan panas letusan gunung Merapi, kan Gunung Merapi lagi meletus Dek” ungkapku menjelaskan.
“Mbah meninggal pas sujud, lagi sholat magrib terus meninggal kena awan panas” lanjutku.
“Kenapa Gunungnya meletus Mi ” ujarnya lagi bertanya padaku.
Subhanallah..terkadang aku kewalahan mencari jawaban yang bisa di pahami seorang batita dengan pertanyaan sedetail itu. Sejenak aku berpikir dalam hati..kenapa ya bisa meletus?
“Hmm..gunung meletus karena Allah yang mengizinkan itu semua terjadi” jawabku sesederhana mungkin agar ia dapat menangkapnya.
Tapi kemudian dia menengadahkan kedua tangannya kedepan wajah sambil berucap lirih “Terima kasih ya Allah..”
Yaa Rabb..tersenyum geli aku melihatnya, ingin tertawa namun kembali tersentak dalam memaknai celoteh polosnya. Apakah yang ada dalam benaknya saat itu, mensyukuri disaat menerima musibah adalah hal yang luar biasa. Musibah yang jika menimpa orang durhaka maka merupakan azab baginya, namun musibah bagi orang yang beriman adalah ujian baginya.
Kita harus berprasangka baik karena Allah yang mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Sesuai dengan firman-Nya dalam Al Quran Surat At Taghaabun ayat 11 yang artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Disaat musibah terjadi banyak orang yang melupakan kekuatan bersyukur. Bersyukur untuk mengundang keikhlasan hati, bersyukur untuk menyadarkan diri agar kita sebagai hamba Sang Khalik menerima musibah yang terjadi dengan ikhlas dan lapang hati. Mengintropeksi diri apakah hal ini terjadi karena kita mengingkari begitu banyak nikmatnya.
Firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 14: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Terima kasih ya Rabb.. begitu banyak pelajaran yang kami ambil dari celoteh polosnya, celoteh lucu yang keluar dari mulut seorang anak berumur 2,5 tahun namun terselip makna yang sangat mendalam. Celoteh menggemaskan yang mengantarkan diri pada introspeksi pribadi
Tulisan ini diikutkan dalam :
